|
Written by Nana Djumhana
|
|
Friday, 29 May 2009 |
|
Lutfi (56 tahun), seorang kernet warga Jalan Jeruk, Tegal; dan Ciut (45 tahun), seorang tukang parkir warga Jalan Halmahera, Tegal, keduanya ditemukan telah tewas tergeletak di pinggir Jalan Sangir Tegal pada Selasa malam, 12 Mei 2009 jam 22.00. Dua hari kemudian diberitakan dalam kasus yang sama menyusul tujuh orang penduduk Kota Tegal yang tewas di rumahnya masing-masing, dan lebih dari sepuluh orang lagi dalam keadaan kritis terbaring di rumah sakit. Dan sampai tanggal 16 Mei dua pekan lalu, total penduduk kota Tegal yang tewas serupa bertambah 13 orang lagi sehingga seluruhnya yang tewas berjumlah 22 orang, disamping masih 6 orang lagi dalam keadaan kritis dirawat di rumah sakit - rumah sakit yang ada di kota tersebut. Hasil pengusutan polisi menunjukkan bahwa para korban tersebut telah menenggak minuman keras oplosan dari bahan bioetanol, yang diracik dan dijual oleh Tomo (59) dibantu anak dan menantunya, Rohani (39) dan Sundoro (41). Direktur RSUD Kardinah Tegal, Abdal Hakim mengatakan bahwa konsumsi terhadap bioetanol akan mengakibatkan kerusakan pada susunan syaraf dan lambung. Korban akan mengalami gejala seperti pusing dan pandangan mata kabur. Korban tewas karena kadar yang dikonsumsi cukup banyak, sehingga mengalami depresi dan sulit bernafas. Menurut dokter spesialis penyakit dalam rumah sakit tersebut yang menangani korban, Nurmilawati, korban sulit disembuhkan karena syaraf mereka sudah rusak akibat mengkonsumsi etanol dalam dosis tinggi, sehingga korban yang selamat akan mengalami cacat permanen dengan pandangan mata kabur dan lemah mental, tergantung kepada ketahanan tubuh dan kadar etanol yang diminum. Itulah berita aktual yang disampaikan oleh berbagai media massa, baik media cetak maupun media elektronik pada pertengahan bulan Mei ini. Kejadian serupa pernah juga terjadi beberapa waktu yang lalu di wilayah Kabupaten Indramayu, dimana lebih dari sepuluh remaja tewas setelah melakukan pesta minuman keras oplosan. Hampir seluruh korban tewas akibat mengkonsumsi minuman keras tersebut, baik yang di Tegal maupun di Indramayu adalah muslim, paling tidak di KTP-nya tercetak beragama Islam. Padahal Allah telah melarang mengkonsumsi yang memabukkan seperti minuman keras, sebagaimana firmanNya : "Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi; katakanlah bahwa di dalam keduanya terdapat dosa besar dan (sedikit) manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya (jauh) lebih besar daripada manfaatnya" (QS Al Baqarah 219). Kemudian ayat ini ditegaskan oleh Rasulullah salallahu alaihi wassalam yang bersabda : "Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan itu pasti haram" (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa'i). |
|
Last Updated ( Friday, 29 May 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Babi : Flu dan Keharamannya |
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Friday, 29 May 2009 |
|
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada pekan terakhir di bulan April lalu meningkatkan status kewaspadaan terhadap mewabahnya flu babi dari dari level tiga menjadi empat, dari keseluruhan enam level. Dan pada awal Mei lalu, kembali WHO telah meningkatkan lagi status kewaspadaan tersebut dari level empat menjadi lima. Peningkatan ini mengindikasikan situasi memburuk begitu cepat dan pandemi diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat. Direktur Jendral WHO, Margaret Chan, di Jenewa Swiss, seusai menggelar pertemuan darurat pada hari Rabu malam waktu setempat (29 April, 2009), mengatakan : "Pandemi influensa harus ditangani serius dan cepat, karena kemampuan penyebaran penyakit ini sangat cepat ke setiap negara". Sebelum WHO menetapkan flu babi memasuki fase lima, seorang anak asal Meksiko berusia 23 bulan meninggal di Houston, Amerika Serikat, disebabkan oleh flu babi tersebut dari 91 kasus yang terjadi di negara itu. Dan sampai 12 Mei lalu di Amerika Serikat telah terjadi 2600 kasus dengan kematian tiga orang. Sedangkan di Meksiko sendiri dalam tahun 2009 sampai 12 Mei dilaporkan oleh Menteri Kesehatan Jose Cordova, bahwa flu babi ini telah menewaskan 56 orang dengan 2059 kasus flu babi. Sampai 12 Mei 2009, penyebaran virus A-H1N1 ini sudah meluas ke 30 negara di dunia terutama di benua Amerika dan Eropa (kecuali Australia, Selandia Baru, Israel, Afrika Selatan, Jepang, Korea Selatan, Cina dan Thailand) melaporkan adanya kasus flu babi ini, dengan total kematian akibat wabah tersebut berjumlah 61 orang dari 5251 kasus. Meskipun sejauh ini belum ada kasus flu babi di negeri kita (sudah 4 orang suspect flu babi, tapi 3 orang dinyatakan negatif, sedang satu orang lagi yaitu co-pilot Air Asia yang dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung masih menunggu hasil analisa), dan meskipun tidak seganas flu burung (oleh virus H5N1), namun janganlah kita meremehkan wabah penyakit ini, dan senantiasa tetap waspada serta perlu lebih mengenali lebih jauh tentang penyakit flu ini. Apalagi WHO telah menetapkan fase lima kewaspadaan pandemi influenza. Ini berarti sumber penularannya bukan lagi dari babi ke manusia, tetapi dari manusia yang terinfeksi virus A-H1N1 kepada manusia lainnya. Kasus yang pernah tejadi dari mewabahnya flu babi ini telah menggoncangkan dunia, dimana telah menewaskan 20 juta orang lebih pada tahun 1918, yang berawal dari Spanyol kemudian dalam waktu singkat menyebar menjadi pandemi flu babi di muka bumi. |
|
Last Updated ( Friday, 29 May 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Friday, 29 May 2009 |
|
Abrahah bin Asyram al Habasyi, gubernur Yaman berencana hendak menghancurkan Ka'bah, ketika tidak berhasil dalam usahanya untuk mengalihkan perhatian bangsa Arab dari Ka'bah beralih kepada gereja Qullais di Shan'a yang dibangun sangat megah dengan bahan-bahan dari perak dan emas. Sehingga kemudian ia bersama pasukannya dengan menunggang gajah bergerak menuju Makah untuk melaksanakan keinginannya. Ada yang menyebut gajahnya hanya satu ekor, tapi ada juga menyebutkan gajahnya berjumlah 13 ekor, bahkan lebih. Sebelum memasuki Makah, mereka berkemah di sebuah tempat di luar kota Makah. Abrahah dan balatentaranya merampas harta masyarakat Arab, di antaranya 200 ekor unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad SAW. Ketika Abdul Muthalib meminta kembali unta miliknya itu, Abrahah kaget seraya berkata : "Apakah hanya untuk 200 ekor unta engkau menemuiku, sementara engkau membiarkan sebuah rumah yang menjadi agamamu dan agama nenek-moyangmu. Padahal aku datang untuk menghancurkannya, tetapi mengapa engkau tidak hendak membicarakannya kepadaku ?". Abdul Muthalib menjawab : "Sesungguhnya aku adalah pemilik unta ini dan sesungguhnya rumah itu sudah ada Pemiliknya sendiri yang akan melindunginya darimu". Sebuah riwayat menyebutkan, ketika Abrahah dengan pasukan gajahnya itu bersiap-siap memasuki Makah dan Abrahah yang menunggangi gajah paling besar hendak melakukan perjalanan, tiba-tiba gajah tersebut duduk menderum alias mogok. Kemudian mereka berusaha menyuruh gajah itu berdiri, namun mereka tidak mampu membuatnya beranjak dari tempat mogoknya. Ketika mereka mengarahkan gajah tersebut ke Syam (Syiria), gajah itu bangkit dan berlari. Begitu pula ketika gajah tersebut diarahkan ke Yaman, gajah itu pun melaju. Namun ketika diarahkan kembali ke Makah, gajah itu tetap tidak mau beranjak. Ketika itulah Allah mengirimkan burung-burung ababil (serombongan demi serombongan) untuk melempari Abrahah dan pasukannya dengan al-hijaaratammin sijjil (batu/tanah liat terbakar yang panas), sehingga Abrahah dan pasukannya kocar-kacir dan satu persatu mati seperti terkena penyakit cacar dalam perjalannya kembali ke Yaman. Dalam catatan sejarah, Abrahah sendiri tewas di tempat kediamannya di Habasyah, Ethopia sekarang. Kisah ini diabadikan oleh Allah dalam Qur'an (yang artinya) : "Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah ? Bukankah Dia telah menjadikan tipu-daya mereka (hendak menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia ? dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah terbakar (panas), lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)" (QS Al Fiil 1-5). Peristiwa tersebut menurut DR. Syawqi Abu Khalil dalam bukunya Atlas Al-Quran, Mengungkap Misteri Kebenaran Al-Quran, terjadi pada 20 April 571, pada tahun dimana Muhammad SAW lahir. |
|
Last Updated ( Friday, 29 May 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Bencana Datang Ketika Manusia Lalai, Waspadalah ! |
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Friday, 29 May 2009 |
|
Sepuluh hari setelah peristiwa jebolnya tanggul bendungan Situ Gintung, di Cireundeu Tangerang Selatan, atau tepatnya pada tanggal 6 April 2009 telah terjadi gempa bumi yang melanda kota L'Aquila di Italia Tengah atau sekitar 100 kilometer sebelah timur laut kota Roma. Gempa tektonik yang berkekuatan 6,3 MW itu terjadi pada pukul 03.32 waktu setempat, atau pada dini hari menjelang subuh ketika manusia masih nyenyak tidur dalam kesunyian dan dinginnya udara di kota tersebut. Spontan ribuan orang dari seluruh penduduk kota tersebut lari keluar rumah memenuhi jalan-jalan dalam kegelapan dan dinginnya udara malam menjelang pagi itu. Ternyata gempa tersebut telah memporak-porandakan lebih dari sepuluh ribu bangunan di kota L'Aquila, yang menyebabkan banyak orang menjadi korban tertimpa puing bangunan dan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggalnya. Tercatat 287 orang tewas dan lebih dari 1.500 orang luka-luka. Belum terhitung kerugian materi akibat gempa tersebut. Data sementara dari United States of Geological Survey (USGS), pusat gempa tersebut berada pada kedalaman 10 kilometer yang berlokasi di bagian tengah Pegunungan Apennina, sebuah jalur pegunungan yang membujur barat laut - tenggara di sepanjang wilayah Italia. Dari catatan USGS di wilayah Apennina bagian tengah ini juga pernah mengalami gempa bumi yang lebih kuat (lebih dari 7 MW), yaitu pada tanggal 23 November 1980 menjelang pagi, sebuah gempa yang menggoyang daerah Irpiona dimana telah menewaskan 2.570 orang, melukai 8.850 orang serta 30.000 orang lebih kehilangan tempat tinggalnya. Secara ilmu pengetahuan (geologi), Pegunungan Apennina ini memang wilayah tektonik yang kompleks akibat interaksi dari beberapa lempeng kulit bumi, baik yang besar seperti Lempeng Afrika dan Eurasia, maupun yang kecil seperti Lempeng Adriatik. Sedangkan penyebab kedua gempa itu (yang terjadi pada tahun 1980 maupun 2009) diduga karena aktifitas sesar/patahan yang searah dengan memanjangnya pegunungan tersebut, seperti halnya beberapa gempa yang terjadi di wilayah Sumatra, yang bersumber dari aktifitas sesar yang searah dengan memanjangnya Pegunungan Bukit Barisan. |
|
Last Updated ( Friday, 29 May 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Tragedi Negri Saba' Di Situ Gintung |
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Saturday, 04 April 2009 |
|
Saba' adalah sebuah negeri yang memiliki peradaban gemilang di Yaman, sekitar abad ke 10 SM sampai menjelang akhir abad ke 2 SM. Sebuah negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi, sehingga kanan kiri jalan dihiasi kebun-kebun buah yang nyaman, enak dilihat dan dinikmati. Sebuah negeri yang berdiri mewarisi negri Mu'in dengan ibu-kotanya di Ma'rib, yang sekarang terletak sekitar 200 kilometer ke arah Timur dari Sanaa' ibu-kota Yaman. Ma'rib berarti air yang melimpah, karena di kota tersebut dibangun oleh kaum Saba' sebuah bendungan raksasa yang mampu menampung milyaran meter kubik air. Awalnya negeri tersebut tandus, maka dengan dibangunnya bendungan Ma'rib dengan berbagai pintu air untuk saluran irigasi ke seluruh negri, telah merubah negeri tersebut menjadi subur makmur. Pemerintahnya mempunyai kebijakan strategis dalam bentuk pemberian subsidi gratis kepada rakyatnya yang mau menanam dengan menyediakan benih unggul dan pupuk, sehingga kehidupan seluruh penduduk di negeri tersebut pun menjadi sejahtera. Namun, ketika Allah memerintahkan mereka untuk bersyukur melalui seruan para Nabi dan RasulNya (sejak jaman Nabi Sulaiman a.s), mereka berpaling, mereka enggan untuk mentaati perintah tersebut. Mereka menjadi sombong, seolah-olah merekalah yang menumbuhkan tanaman. Mereka merasa bahwa semata-mata atas jerih payahnya mereka menjadikan tanah yang tandus menjadi negeri yang subur makmur. Maka Allah kemudian menurunkan azabNya di saat mereka hendak memanen hasil usahanya itu. Allah menurunkan hujan deras selama sepekan, sehingga air pun meluap melebihi daya tampung bendungan Ma'rib, dan tak mampu lagi menahan beban tekanan air yang sangat besar. Bendungan raksasa itu pun kemudian jebol dan air bah melanda negri Saba' dengan dahsyatnya. Rumah-rumah tempat tinggal beserta penghuninya dan kebun-kebun mereka pun porak poranda dihantam air bah, sehingga banyak nyawa penduduk melayang dan hancurnya prasarana kehidupan yang telah dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun tersebut. |
|
Last Updated ( Tuesday, 07 April 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Tangan Di Atas Lebih Baik Daripada Tangan Di Bawah (6) |
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Saturday, 13 September 2008 |
|
Ketika shalat Id pasca Ramadhan lalu, saya bersama seluruh keluarga melaksanakannya di area Monumen Jogja Kembali. Kebetulan lokasinya dekat dengan rumah saya di Jogja, dan yang menjadi imam shalat sekaligus khatib adalah Pak Amien Rais, mantan Ketua MPR. Sehingga jamaah shalat Id membludak ke jalan-jalan, di luar perkiraan panitia. Pesan yang disampaikan Pak Amien dalam khutbahnya, cukup singkat tetapi padat dan sangat mengena. Kebetulan juga saya masih menyimpan materi khutbah beliau, dan sekedar info saja bahwa Pak Amien sekarang menjadi kerabat keluarga istri saya (putri sulung beliau menikah dengan adik sepupu istri saya). Saya kutipkan khutbahnya yang singkat tersebut : "Banyak hikmah ibadah puasa yang harus kita petik sebagai bekal menghadapi hari-hari yang akan datang. Pertama, hamba Allah yang sukses dalam hidupnya adalah hamba Allah yang pandai mengendalikan hawa nafsu. Innannafsa la-ammaratun bissuuk (sesungguhnya nafsu itu mengajak kepada kebusukan). Semakin berhasil menaklukan angkara nafsu kita, semakin kita berhasil menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Kedua, hidup setiap muslim selalu berdimensi sosial. Tidak banyak manfaat hidup kita, kalau kita hanya berpikir, bekerja, berjuang, bahkan berkorban hanya untuk diri sendiri saja. Iman kita jadi kering dan gersang, bilamana kita menjadi manusia egois yang ananniyah, yang berpikir terfokus pada diri sendiri dan keluarga saja. Karena itu kita harus perbanyak amal shalih kemasyarakatan kita. Bukalah dan bacalah Al-Qur'an, ada berpuluh-puluh ayat yang memberitahu kita bahwa kunci pembuka surga Allah adalah iman dan amal shalih. Sebagai contoh dalam surat Al-'Ashr : "Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia merugi, kecuali yang beriman, beramal shalih, saling berwasiyat dalam kebenaran". Ketiga, seluruh hidup dan kehidupan kita harus kita sandarkan sepenuhnya hanya kepada Allah SWAT. "Katakanlah Allah adalah maha esa. Allah tempat bergantung (seluruh makhluk). Tidak beranak dan diperanakan. Dan tiada siapapun yang menyetaraiNya" (QS Al Ikhlas). Dengan bersandar, bertawakal, bergantung sepenuhnya pada Allah kita jadi kuat dan sentosa. Sebaliknya tanpa Allah kita hanyalah debu kotoran yang tidak berfaedah apa-apa. |
|
Read more...
|
|
|
Tangan Di Atas Lebih Baik Daripada Tangan Di Bawah (7) |
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Saturday, 13 September 2008 |
|
Ketika shalat berjamaah, selaku imam Rasulullah salallahu alaihi wassalam senantiasa memperhatikan jamaahnya. Ada seorang jamaah bernama Tsa'labah yang diperhatikan beliau, karena begitu selesai salam langsung menghilang. Kemudian pada suatu kesempatan beliau menanyakan kepada Tsa'labah, mengapa begitu selesai shalat langsung pergi. Tsa'labah pun menjelaskan mengapa begitu selesai shalat ia segera pergi, alasannya karena kain yang dipakainya itu ditunggu oleh istrinya di rumah. Karena ternyata saking miskinnya, satu kain dipakai bergantian oleh dirinya dan istrinya. Kemudian Tsa'labah memohon agar Rasulullah berdo'a kepada Allah sehingga Allah berkehendak mengaruniakan rizkiNya kepadanya, agar ia dan keluarganya terlepas dari kemiskinan. Namun Rasulullah menolaknya dan menasehatinya, jika ia menjadi berkecukupan belum tentu akan lebih taat kepada Allah dan RasulNya dibandingkan ketika masih miskin seperti sekarang. Akan tetapi Tsa'labah ngotot, berulangkali memohon dengan berjanji akan tetap taat kepada Allah dan RasulNya. Sehingga Rasulullah pun akhirnya memenuhi permintaannya dan kemudian berdo'a kepada Allah agar Tsa'labah dikaruniai rizki yang banyak. Kemudian kepada Tsa'labah diberikannya modal berupa dua ekor kambing. Namun ternyata setelah itu, Tsa'labah yang tadinya rajin shalat berjamaah setiap waktu, sering bolos terutama pada shalat di siang hari. Alasannya ia sibuk mengurusi/menggembalakan kambingnya di siang hari. Allah telah mengabulkan do'a Rasulullah, sehingga kambing-kambing Tsa'labah pun beranak pinak dan jumlahnya makin banyak. Akan tetapi dengan bertambah banyaknya kambing piaraannya itu, semakin jarang pula ia datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Alasannya ia semakin sibuk mengurusi kambing-kambing tersebut di siang hari dan merasa kecapaian di malam hari. Bahkan kemudian ia sudah tidak tampak lagi di masjid untuk shalat berjamaah. Ia lupa akan janjinya ketika masih miskin dan memohon dido'akan oleh Rasulullah. Dan ketika jumlah kambing Tsa'labah semakin banyak serta mencapai 40 ekor, Rasulullah mengutus petugas zakat mendatangi Tsa'labah untuk mengambil seekor kambingnya sebagai zakat yang harus ia keluarkan atas kambing-kambingnya itu. Namun Tsa'labah menolak memberikan seekor kambingnya sebagai zakat. Ia beralasan bahwa kambing-kambing itu miliknya dan ia merasa bahwa atas usahanya dengan menggembalakan dan mengurusi sendiri kambing-kambing itu sehingga menjadi bertambah banyak. Sampai tiga kali Rasulullah mengutus petugas pajak itu datang kepada Tsa'labah agar ia mengeluarkan zakatnya seekor kambing, tetapi sampai tiga kali pula Tsa'labah tetap menolak mengeluarkan zakatnya. |
|
Read more...
|
|
|
Tangan Di Atas Lebih Baik Daripada Tangan Di Bawah (8) |
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Saturday, 13 September 2008 |
|
Sebuah kisah, seorang sufi zuhud pergi haji. Setelah selesai melaksanakan manasiknya, dia tertidur kelelahan. Dalam tidurnya dia bermimpi mendengar percakapan malaikat yang mencatat siapa saja yang hajinya mabrur. Ternyata dari ratusan ribu jamaah, tercatat hanya beberapa orang saja yang berpredikat mabrur, termasuk dirinya dan seorang tukang sepatu dari Baghdad. Ketika dia menjumpai rombongan jamaah haji dari Baghdad, ternyata tukang sepatu itu tidak dijumpai di antara jamaah tersebut karena urung berangkat. Karena penasaran, kemudian sufi itu pergi ke Baghdad untuk menemui tukang sepatu tersebut, ingin mengetahui apa yang menyebabkannya mendapat haji mabrur meskipun tidak jadi pergi haji ke Mekah. Ketika bertemu, tukang sepatu tersebut mengaku bahwa sebelumnya ia memang hendak pergi haji ke Mekah dengan biaya yang dikumpulkan selama puluhan tahun. Namun setelah uang itu terkumpul dan cukup untuk melaksanakan haji, ia tidak jadi berangkat karena uang itu diserahkan kepada tetangganya, seorang janda miskin dengan beberapa anaknya yang menderita kelaparan. Ia bercerita, ketika itu istrinya mencium bau harum kambing bakar dan sangat menginginkannya. Sehingga ia menyuruh putranya untuk mencari tahu siapa yang sedang membakar kambing itu, untuk meminta atau membelinya barang sedikit. Beberapa saat kemudian, putranya itu kembali dan mengatakan bahwa kambing bakar tetangganya itu haram untuk dibeli maupun dimakan, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sehingga ia (tukang sepatu) dengan sedikit agak dongkol serta penasaran, pergi mendatangi rumah tetangganya yang sedang membakar kambing. Ternyata di rumah itu tampak seorang janda dengan beberapa anaknya sedang memakan kambing bakar. Ketika ia mengutarakan maksudnya hendak membeli kambing bakar barang sedikit, janda itu bilang : "Kambing bakar ini halal bagi kami tetapi haram bagi tuan. Karena yang kami bakar ini adalah bangkai kambing yang saya temukan, padahal kami sudah tidak makan selama beberapa hari, karena memang kami tidak punya apa-apa untuk dimakan atau dibeli". Mendengar penuturan janda tersebut, tanpa berucap sepatah katapun ia lalu kembali ke rumah, dan kemudian balik lagi dengan membawa uang yang rencananya akan digunakan untuk biaya haji itu, selanjutnya diserahkannya kepada janda tersebut untuk keperluan hidup bersama anak-anaknya agar tidak kelaparan lagi. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Friday, 05 September 2008 |
|
Salah satu judul pidato kenegaraan dari Presiden RI pertama, Bung Karno di jaman Orde Lama adalah "JAS MERAH", singkatan dari "Jangan Melupakan Sejarah", mengingatkan kita agar tidak melupakan berbagai kejadian di masa lalu dan mengambil pelajaran daripadanya. Hal ini sejalan dengan peringatan dari Allah dalam firmanNya : "Dan Dia memperlihatkan kepadamu ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya, maka ayat-ayat Allah manakah yang kamu ingkari ? Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka. Padahal orang-orang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya serta (meninggalkan banyak) petilasan mereka di muka bumi, maka apa yang mereka upayakan itu tidak mampu menolong mereka" (QS Al Mu'min 81-82). Kehancuran peradaban suatu bangsa atau masyarakat di masa lalu itu sangat berkaitan dengan perilaku manusia dari bangsa atau masyarakat tersebut yang telah menyimpang dari tatanan atau aturan yang ditetapkan oleh Sang pencipta alam, atau dengan kata lain tidak sesuai dengan sunnatullah. Allah juga telah menginformasikan kepada kita melalui firmanNya : "Itu adalah sebagian dari berita negri-negri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu, di antara negri-negri itu ada yang masih terdapat petilasannya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan Kami tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tidaklah bermanfaat segala ilah yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang, dan ilah-ilah itu tidaklah menambah apapun kepada mereka kecuali kebinasaan" (QS Huud 100-101). Sebaliknya, keberhasilan peradaban suatu bangsa atau masyarakat dalam membangun kehidupan di masa lalu juga sangat berkaitan erat dengan perilaku manusia yang mampu memberdayakan potensi kemanusiaannya yang sesuai dengan sunnatullah, yaitu mereka yang melakukan amal kebaikan sesuai aturan yang telah ditetapkan Allah, sebagaimana firmanNya : "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negri-negri secara dzalim, ketika penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS Huud 117). Maka dengan peran ilmu, kita dapat mengambil pelajaran dari kehidupan manusia di masa lalu. Dan jika kita mengharapkan keberhasilan namun tidak ingin mendapatkan kehancuran, hanya satu jalan, ikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah pencipta seluruh alam semesta ini, dengan mengabdi kepadaNya tanpa reserve (taqwa). |
|
Read more...
|
|
|
Sandal Jepit Yang Terhormat |
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 05 September 2008 |
|
Di sebuah toko sepatu di kawasan perbelanjaan termewah di sebuah kota, tampak di etalase sebuah sepatu dengan anggun diterangi oleh lampu yang indah. Dari tadi dia nampak jumawa dengan posisinya, sesekali dia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memamerkan kemolekan desainnya, haknya yang tinggi dengan warna coklat tua semakin menambah kemolekan yang dimilikinya. Pada saat jam istirahat, seorang pramuniaga yang akan makan siang meletakkan sepasang sandal jepit tidak jauh dari letak sang sepatu. "Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan sekali saja dalam bentuk buruk dan tidak menarik", sergah sang sepatu dengan nada congkak. Sandal jepit hanya terdiam dan melemparkan sebuah senyum persahabatan. |
|
Last Updated ( Friday, 05 September 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Eko Jalu Santoso
|
|
Saturday, 23 August 2008 |
|
Mengapa manusia disebut sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Allah lainnya ?. Salah satunya adalah karena manusia memiliki “kebebasan hati” untuk memilih jalan kehidupannya. Manusia memiliki kemerdekaan hati untuk mengarahkan pilihan jalan hidupnya. Kemerdekaan dan kebebasan hati inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Sesungguhnya dihadapan setiap manusia telah terbentang dua pilihan jalan kehidupan. Manusia diberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih, apakah kita akan memilih jalan keberhasilan atau kegagalan, memilih jalan kehidupan positif atau kehidupan negatif, memilih memiliki motivasi tinggi atau dikendalikan kemalasan, memiliki keberanian atau ketakutan, dll. Kita sendirilah yang menjadi penguasa hati kita sendiri. Kita sendirilah yang sepenuhnya mengendalikan hati kita dan akan kita arahkan untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh. Apakah akan memilih mengarahkan hati mengikuti tarikan positif “nilai-nilai spiritualisme” atau mengikuti tarikan negatif “nilai-nilai materialisme”. Apapun yang akan kita pilih, dapat memberikan pengaruh terhadap pikiran, sikap, tindakan, perilaku dan langkah-langkah yang akan kita lakukan dalam kehidupan ini. Dan hal itu yang akan menjadi sebab atau menciptakan hasil yang akan diperoleh dalam kehidupan nantinya. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Eko Jalu Santoso
|
|
Saturday, 23 August 2008 |
|
Meskipun dalam beberapa hari ini kita menghadapi kemacetan yang semakin parah di jalan-jalan raya di Jakarta, karena sudah tidak diperbolehkan lagi menggunakan jalur busway (teman kantor saya bilang jalur busway ternyata lebar ya, karena begitu kita nggak boleh pakai, pengaruh macetnya luar biasa), meskipun mungkin Anda dalam hari-hari ini dihadapkan pada berbagai problem dan masalah, apakah masalah urusan pribadi, kantor, keluarga maupun lainnya, tetapi semua itu tidak boleh mengendorkan semangat kita untuk terus bertumbuh lebih baik. Semua itu tidak boleh menyurutkan semangat kita untuk meningkatkan kualitas diri berkembang lebih baik lagi setiap hari. Bagaimana dapat bertumbuh lebih baik setiap hari di tengah situasi yang tidak menentu ini ? Semua itu sesungguhnya tergantung dari bagaimana mengelola hati dan pikiran kita. Sesungguhnya setiap orang memiliki kesempatan untuk terus mengembangkan dirinya menjadi lebih baik lagi, terus bertumbuh lebih baik lagi dengan mau berpikir positif menghadapi setiap tantangan yang datang. Mau berpikir positif, optimis menghadapi tantangan dan mau terus belajar dan belajar lebih baik lagi. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Tuesday, 19 August 2008 |
|
Isra' dalam kajian sejarah Islam berarti perjalanan Nabi Muhammad Salallahu 'alaihi wassalam pada malam hari dalam waktu yang teramat singkat, dari Masjid Haram di Mekkah ke Masjid Aqsa di Yerusalem Palestina. Sedangkan mi'raj berarti kenaikan beliau dari Masjid Aqsa ke alam atas melalui beberapa tingkatan, menuju Baitul Makmur, Sidratul Muntaha, Arsy (Tahta Tuhan) dan Kursyi (Singgasana Tuhan) hingga menerima langsung wahyu Allah Suhanahuwata'ala, yaitu perintah shalat fardhu. Peristiwa tersebut terjadi pada 27 Rajab, 11 tahun setelah kerasulan beliau, atau terjadi pada tahun 621 Masehi. Dalam sebuah riwayat yang dikisahkan oleh sepupu Nabi SAW, Hindun binti Abu Thalib yang mengatakan bahwa malam itu Rasulullah bermalam di rumahnya. "Selepas shalat akhir malam (saat itu belum ada perintah shalat fardhu, kira-kira pada saat sesudah 'Isya) beliau tidur dan kami pun tidur. Pada saat menjelang fajar, Rasulullah sudah membangunkan kami. Sesudah melaksanakan ibadah pagi bersama kami, beliau berkata : "Umm Hani, saya telah shalat akhir malam bersamamu sekalian seperti engkau lihat di lembah ini. Kemudian saya ke Baitul Maqdis (Yerusalem) dan shalat disana. Sekarang saya shalat pagi bersamamu kembali seperti yang engkau lihat". Hindun mengatakan : "Wahai Rasulullah, janganlah menceritakan hal itu kepada orang lain. Orang-orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi". "Tetapi harus saya ceritakan kepada mereka" jawab beliau. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Tuesday, 19 August 2008 |
|
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata "Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu serta mensucikan-Mu ?" Tuhan berfirman "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui". Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian memang orang-orang yang benar". Mereka menjawab "Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain daripada apa yang telah Engkau beritahukan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana". Allah berfirman "Wahai Adam beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah (Adam) memberitahukan kepada mereka (para malaikat) nama-nama benda itu, Allah berfirman "Bukankah Aku sudah mengatakan kepada kalian, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian rahasiakan/sembunyikan ?". Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat "Sujudlah kepada Adam". Maka mereka pun bersujud kecuali Iblis, ia enggan dan sombong, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al Baqarah 30-34). |
|
Read more...
|
|
|
Inspirasi Dari Keluarga Polgar |
|
Written by Dani Rusirawan
|
|
Sunday, 30 December 2007 |
|
Pernahkah kita sebelumnya mendengar nama-nama seperti Hevesy György, Szent-Györgyi Albert, Wigner JenÅ‘, Gábor Dénes, Harsányi János ?. Saya yakin, semuanya sependapat dengan saya, bahwa seluruh nama-nama yang disebutkan tadi tidak begitu familiar di telinga kita. Pertanyaan selanjutnya, pernahkah kita sebelumnya mendengar Laszlo Polgar, yang katanya pernah menghebohkan dunia lewat konsepnya “how to teach the genius” ?. Sebagian mungkin memang pernah mendengarya, tapi tidak bagi saya. Dan terakhir pernahkah kita sebelumnya mendengar nama Judit Polgar ?. Ya, nama ini cukup familiar di telinga saya, dan saya yakin banyak yang mengenal nama yang terakhir ini, terlebih bagi para penggemar catur. Judit Polgar adalah pecatur putri terbaik dunia saat ini, yang pada tahun 1991 meraih Grand Master (GM) pada usia 15 tahun, sekaligus melampaui rekor peraih GM termuda sebelumnya a.n. Bobby Fischer dari USA (Namun demikian rekor Judit sejak tahun 2004 sudah pecah dengan munculnya anak ajaib dari Norwegia, Magnus Carlsen, yang meraih GM pada usia 13 tahun). Seluruh nama yang disebutkan tadi merupakan warga negara kebanggaan Hongaria (Hungary atau Magyar), sebuah negara dengan jumlah penduduk 10.000.000 (4 % dari jumlah penduduk Indonesia), yang terletak di Eropa tengah (berbatasan dengan Austria, Slovenia, Kroasia, Serbia Montenegro, Rumania, Ukraina dan Slowakia), dan saat ini masih mengalami fase transisi dari bentuk negara sosialis menjadi negara demokrasi (pasca rubuhnya tembok berlin, 9 November 1989). Sejak 1 Mei 2004, Hongaria telah menjadi anggota Uni Eropa (UE), dan mulai 21 Desember 2007 Hongaria akan menyusul 15 negara Eropa lainnya untuk menjadi bagian dari negara Schengen. |
|
Last Updated ( Wednesday, 02 January 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Matematika Bumi VS Matematika Langit |
|
Written by Agus Syafii
|
|
Saturday, 15 December 2007 |
|
Kerja keras belum tentu produktif, lihat tukang becak, sungguh ia sudah kerja keras mengayuh becaknya hingga ngos-ngosan keringatan, tetapi hasilnya ternyata tidak memadai. Kerja cerdas lebih produktif, tidak terlalu keringatan tetapi hasilnya bisa jauh lebih banyak. Tetapi banyak juga orang yang sudah kerja cerdas, sudah menghasilkan begitu banyak, segala yang dibutuhkan sudah tersedia, ternyata hidupnya tidak tenang, gelisah dan ujung-ujungnya lari ke narkoba atau mendekam di penjara. |
|
Read more...
|
|
|
Saat Cinta Berpaling Darimu |
|
Written by Asma N.
|
|
Saturday, 15 December 2007 |
|
Apakah dia merasa putus asa ketika mengetahui bahwa gaji suaminya yang masih kuliah itu hanya 200 ribu sebulan ?. Apakah dia putus asa ketika mereka harus berpindah-pindah kontrakan dari satu rumah mungil ke rumah mungil yang lain ?. Apakah perempuan itu mengeluh, ketika berbulan-bulan hanya makan tempe dan sayur, yang masing-masing dibeli seribu rupiah di warung, ketika sang suami tak bekerja cukup lama ?. Jawabannya tidak. Perempuan berwajah manis, yang saya kenal itu sebaliknya selalu terlihat cerah, seolah permasalahan ekonomi yang menerpa keluarga kecil mereka, tak berarti apa-apa. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Hidayatullah.com
|
|
Saturday, 15 December 2007 |
|
Salah satu gizi spiritual dalam menghadapi kehidupan adalah bersahabat dengan "alhamdulillah" yang memiliki arti : "segala puji bagi Allah Swt". Orang-orang yang sering bersahabat dengan "gizi spiritual" ini, insyaAllah hidupnya akan lebih bahagia dibanding yang mereka duga. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Budhi S.
|
|
Saturday, 15 December 2007 |
|
Hidup ini adalah sebuah pembelajaran. Dan satu hal yang sering kita lupa adalah... memaafkan. Para Sahabat semua, saya menulis disini bukan sebagai seorang yang sempurna. Saya mempunyai sisi lemah dalam hidup ini. Saya juga punya pengalaman pahit di hari-hari yang lalu. Pengalaman yang mungkin lebih menyakitkan daripada yang mungkin sedang Anda alami saat ini. Namun melalui tulisan ini izinkan saya sedikit share dan berbagi cerita, dan juga pengalaman tentang sepatah kata yang bernama.... maaf. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Budhi S.
|
|
Saturday, 15 December 2007 |
|
Kebahagian manusia ada bila ia bisa membuka mata hatinya, dan menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti dan menyadari betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus. Kebahagian manusia tidak dapat hadir karena tidak mau membuka hati, dan berusaha meraih apa yang tidak dapat diraih, terlalu memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri apa yang ia miliki. |
|
Last Updated ( Saturday, 15 December 2007 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by KH. Wahfiudin MBA
|
|
Monday, 12 November 2007 |
|
Manusia tidak boleh menyalahkan takdir sebagai alasan untuk tidak beribadah dan berusaha. Seorang tidak boleh berkata, "Jika aku telah ditakdirkan baik dan beriman, mengapa aku harus bersusah payah beribadah dan beramal saleh ?. Bukankah sudah pasti aku akan masuk Surga ?". Seorang juga tidak sepantasnya berkata, "Jika aku telah ditakdirkan menjadi kafir, apakah manfaatnya jika aku berusaha menjadi mukmin ?. Bukankah yang kulakukan akan sia-sia, karena takdir telah menetapkan bahwa aku akan masuk neraka ?". |
|
Read more...
|
|
|
Bersyukurlah dan Berbahagialah |
|
Written by Budhi S.
|
|
Monday, 12 November 2007 |
|
Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan. "Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ?. Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?". |
|
Read more...
|
|
|
Kata-kata Mu adalah Doa Mu... Ibu |
|
Written by Tita Dewi
|
|
Monday, 12 November 2007 |
|
"Liaan... Apa lagi!!!" melengking suara seorang wanita memanggil anaknya, dan diteruskan dengan cacian-cacian, "Bodoh kamu!! Bego! Pake otak kalo mau apa-apa!". Aku yang baru tidur setelah adzan subuh karena harus lembur menyelesaikan tulisan, mau tidak mau harus bangun, kulirik jam weker di atas lemari, jam 7 kurang 15. Aku bergumam sedikit kesal, karena mataku masih terasa berat sekali. Sementara caci maki ibu itu terus berlanjut. Tak lama terdengar suara sang anak mengaduh, entah apa yang terjadi dan kemudian suasana sepi, sepertinya anak itu pergi. |
|
Read more...
|
|
| |
|