Renungan Islami
|
Tangan Di Atas Lebih Baik Daripada Tangan Di Bawah (6) |
|
|
|
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Saturday, 13 September 2008 |
|
Ketika shalat Id pasca Ramadhan lalu, saya bersama seluruh keluarga melaksanakannya di area Monumen Jogja Kembali. Kebetulan lokasinya dekat dengan rumah saya di Jogja, dan yang menjadi imam shalat sekaligus khatib adalah Pak Amien Rais, mantan Ketua MPR. Sehingga jamaah shalat Id membludak ke jalan-jalan, di luar perkiraan panitia. Pesan yang disampaikan Pak Amien dalam khutbahnya, cukup singkat tetapi padat dan sangat mengena. Kebetulan juga saya masih menyimpan materi khutbah beliau, dan sekedar info saja bahwa Pak Amien sekarang menjadi kerabat keluarga istri saya (putri sulung beliau menikah dengan adik sepupu istri saya). Saya kutipkan khutbahnya yang singkat tersebut : "Banyak hikmah ibadah puasa yang harus kita petik sebagai bekal menghadapi hari-hari yang akan datang. Pertama, hamba Allah yang sukses dalam hidupnya adalah hamba Allah yang pandai mengendalikan hawa nafsu. Innannafsa la-ammaratun bissuuk (sesungguhnya nafsu itu mengajak kepada kebusukan). Semakin berhasil menaklukan angkara nafsu kita, semakin kita berhasil menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Kedua, hidup setiap muslim selalu berdimensi sosial. Tidak banyak manfaat hidup kita, kalau kita hanya berpikir, bekerja, berjuang, bahkan berkorban hanya untuk diri sendiri saja. Iman kita jadi kering dan gersang, bilamana kita menjadi manusia egois yang ananniyah, yang berpikir terfokus pada diri sendiri dan keluarga saja. Karena itu kita harus perbanyak amal shalih kemasyarakatan kita. Bukalah dan bacalah Al-Qur'an, ada berpuluh-puluh ayat yang memberitahu kita bahwa kunci pembuka surga Allah adalah iman dan amal shalih. Sebagai contoh dalam surat Al-'Ashr : "Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia merugi, kecuali yang beriman, beramal shalih, saling berwasiyat dalam kebenaran". Ketiga, seluruh hidup dan kehidupan kita harus kita sandarkan sepenuhnya hanya kepada Allah SWAT. "Katakanlah Allah adalah maha esa. Allah tempat bergantung (seluruh makhluk). Tidak beranak dan diperanakan. Dan tiada siapapun yang menyetaraiNya" (QS Al Ikhlas). Dengan bersandar, bertawakal, bergantung sepenuhnya pada Allah kita jadi kuat dan sentosa. Sebaliknya tanpa Allah kita hanyalah debu kotoran yang tidak berfaedah apa-apa. |
|
Read more...
|
|
|
Tangan Di Atas Lebih Baik Daripada Tangan Di Bawah (7) |
|
|
|
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Saturday, 13 September 2008 |
|
Ketika shalat berjamaah, selaku imam Rasulullah salallahu alaihi wassalam senantiasa memperhatikan jamaahnya. Ada seorang jamaah bernama Tsa'labah yang diperhatikan beliau, karena begitu selesai salam langsung menghilang. Kemudian pada suatu kesempatan beliau menanyakan kepada Tsa'labah, mengapa begitu selesai shalat langsung pergi. Tsa'labah pun menjelaskan mengapa begitu selesai shalat ia segera pergi, alasannya karena kain yang dipakainya itu ditunggu oleh istrinya di rumah. Karena ternyata saking miskinnya, satu kain dipakai bergantian oleh dirinya dan istrinya. Kemudian Tsa'labah memohon agar Rasulullah berdo'a kepada Allah sehingga Allah berkehendak mengaruniakan rizkiNya kepadanya, agar ia dan keluarganya terlepas dari kemiskinan. Namun Rasulullah menolaknya dan menasehatinya, jika ia menjadi berkecukupan belum tentu akan lebih taat kepada Allah dan RasulNya dibandingkan ketika masih miskin seperti sekarang. Akan tetapi Tsa'labah ngotot, berulangkali memohon dengan berjanji akan tetap taat kepada Allah dan RasulNya. Sehingga Rasulullah pun akhirnya memenuhi permintaannya dan kemudian berdo'a kepada Allah agar Tsa'labah dikaruniai rizki yang banyak. Kemudian kepada Tsa'labah diberikannya modal berupa dua ekor kambing. Namun ternyata setelah itu, Tsa'labah yang tadinya rajin shalat berjamaah setiap waktu, sering bolos terutama pada shalat di siang hari. Alasannya ia sibuk mengurusi/menggembalakan kambingnya di siang hari. Allah telah mengabulkan do'a Rasulullah, sehingga kambing-kambing Tsa'labah pun beranak pinak dan jumlahnya makin banyak. Akan tetapi dengan bertambah banyaknya kambing piaraannya itu, semakin jarang pula ia datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Alasannya ia semakin sibuk mengurusi kambing-kambing tersebut di siang hari dan merasa kecapaian di malam hari. Bahkan kemudian ia sudah tidak tampak lagi di masjid untuk shalat berjamaah. Ia lupa akan janjinya ketika masih miskin dan memohon dido'akan oleh Rasulullah. Dan ketika jumlah kambing Tsa'labah semakin banyak serta mencapai 40 ekor, Rasulullah mengutus petugas zakat mendatangi Tsa'labah untuk mengambil seekor kambingnya sebagai zakat yang harus ia keluarkan atas kambing-kambingnya itu. Namun Tsa'labah menolak memberikan seekor kambingnya sebagai zakat. Ia beralasan bahwa kambing-kambing itu miliknya dan ia merasa bahwa atas usahanya dengan menggembalakan dan mengurusi sendiri kambing-kambing itu sehingga menjadi bertambah banyak. Sampai tiga kali Rasulullah mengutus petugas pajak itu datang kepada Tsa'labah agar ia mengeluarkan zakatnya seekor kambing, tetapi sampai tiga kali pula Tsa'labah tetap menolak mengeluarkan zakatnya. |
|
Read more...
|
|
|
Tangan Di Atas Lebih Baik Daripada Tangan Di Bawah (8) |
|
|
|
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Saturday, 13 September 2008 |
|
Sebuah kisah, seorang sufi zuhud pergi haji. Setelah selesai melaksanakan manasiknya, dia tertidur kelelahan. Dalam tidurnya dia bermimpi mendengar percakapan malaikat yang mencatat siapa saja yang hajinya mabrur. Ternyata dari ratusan ribu jamaah, tercatat hanya beberapa orang saja yang berpredikat mabrur, termasuk dirinya dan seorang tukang sepatu dari Baghdad. Ketika dia menjumpai rombongan jamaah haji dari Baghdad, ternyata tukang sepatu itu tidak dijumpai di antara jamaah tersebut karena urung berangkat. Karena penasaran, kemudian sufi itu pergi ke Baghdad untuk menemui tukang sepatu tersebut, ingin mengetahui apa yang menyebabkannya mendapat haji mabrur meskipun tidak jadi pergi haji ke Mekah. Ketika bertemu, tukang sepatu tersebut mengaku bahwa sebelumnya ia memang hendak pergi haji ke Mekah dengan biaya yang dikumpulkan selama puluhan tahun. Namun setelah uang itu terkumpul dan cukup untuk melaksanakan haji, ia tidak jadi berangkat karena uang itu diserahkan kepada tetangganya, seorang janda miskin dengan beberapa anaknya yang menderita kelaparan. Ia bercerita, ketika itu istrinya mencium bau harum kambing bakar dan sangat menginginkannya. Sehingga ia menyuruh putranya untuk mencari tahu siapa yang sedang membakar kambing itu, untuk meminta atau membelinya barang sedikit. Beberapa saat kemudian, putranya itu kembali dan mengatakan bahwa kambing bakar tetangganya itu haram untuk dibeli maupun dimakan, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sehingga ia (tukang sepatu) dengan sedikit agak dongkol serta penasaran, pergi mendatangi rumah tetangganya yang sedang membakar kambing. Ternyata di rumah itu tampak seorang janda dengan beberapa anaknya sedang memakan kambing bakar. Ketika ia mengutarakan maksudnya hendak membeli kambing bakar barang sedikit, janda itu bilang : "Kambing bakar ini halal bagi kami tetapi haram bagi tuan. Karena yang kami bakar ini adalah bangkai kambing yang saya temukan, padahal kami sudah tidak makan selama beberapa hari, karena memang kami tidak punya apa-apa untuk dimakan atau dibeli". Mendengar penuturan janda tersebut, tanpa berucap sepatah katapun ia lalu kembali ke rumah, dan kemudian balik lagi dengan membawa uang yang rencananya akan digunakan untuk biaya haji itu, selanjutnya diserahkannya kepada janda tersebut untuk keperluan hidup bersama anak-anaknya agar tidak kelaparan lagi. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Nana Djumhana
|
|
Friday, 05 September 2008 |
|
Salah satu judul pidato kenegaraan dari Presiden RI pertama, Bung Karno di jaman Orde Lama adalah "JAS MERAH", singkatan dari "Jangan Melupakan Sejarah", mengingatkan kita agar tidak melupakan berbagai kejadian di masa lalu dan mengambil pelajaran daripadanya. Hal ini sejalan dengan peringatan dari Allah dalam firmanNya : "Dan Dia memperlihatkan kepadamu ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya, maka ayat-ayat Allah manakah yang kamu ingkari ? Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka. Padahal orang-orang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya serta (meninggalkan banyak) petilasan mereka di muka bumi, maka apa yang mereka upayakan itu tidak mampu menolong mereka" (QS Al Mu'min 81-82). Kehancuran peradaban suatu bangsa atau masyarakat di masa lalu itu sangat berkaitan dengan perilaku manusia dari bangsa atau masyarakat tersebut yang telah menyimpang dari tatanan atau aturan yang ditetapkan oleh Sang pencipta alam, atau dengan kata lain tidak sesuai dengan sunnatullah. Allah juga telah menginformasikan kepada kita melalui firmanNya : "Itu adalah sebagian dari berita negri-negri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu, di antara negri-negri itu ada yang masih terdapat petilasannya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan Kami tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tidaklah bermanfaat segala ilah yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang, dan ilah-ilah itu tidaklah menambah apapun kepada mereka kecuali kebinasaan" (QS Huud 100-101). Sebaliknya, keberhasilan peradaban suatu bangsa atau masyarakat dalam membangun kehidupan di masa lalu juga sangat berkaitan erat dengan perilaku manusia yang mampu memberdayakan potensi kemanusiaannya yang sesuai dengan sunnatullah, yaitu mereka yang melakukan amal kebaikan sesuai aturan yang telah ditetapkan Allah, sebagaimana firmanNya : "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negri-negri secara dzalim, ketika penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS Huud 117). Maka dengan peran ilmu, kita dapat mengambil pelajaran dari kehidupan manusia di masa lalu. Dan jika kita mengharapkan keberhasilan namun tidak ingin mendapatkan kehancuran, hanya satu jalan, ikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah pencipta seluruh alam semesta ini, dengan mengabdi kepadaNya tanpa reserve (taqwa). |
|
Read more...
|
|
|
Written by Eko Jalu Santoso
|
|
Saturday, 23 August 2008 |
|
Mengapa manusia disebut sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Allah lainnya ?. Salah satunya adalah karena manusia memiliki “kebebasan hati” untuk memilih jalan kehidupannya. Manusia memiliki kemerdekaan hati untuk mengarahkan pilihan jalan hidupnya. Kemerdekaan dan kebebasan hati inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Sesungguhnya dihadapan setiap manusia telah terbentang dua pilihan jalan kehidupan. Manusia diberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih, apakah kita akan memilih jalan keberhasilan atau kegagalan, memilih jalan kehidupan positif atau kehidupan negatif, memilih memiliki motivasi tinggi atau dikendalikan kemalasan, memiliki keberanian atau ketakutan, dll. Kita sendirilah yang menjadi penguasa hati kita sendiri. Kita sendirilah yang sepenuhnya mengendalikan hati kita dan akan kita arahkan untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh. Apakah akan memilih mengarahkan hati mengikuti tarikan positif “nilai-nilai spiritualisme” atau mengikuti tarikan negatif “nilai-nilai materialisme”. Apapun yang akan kita pilih, dapat memberikan pengaruh terhadap pikiran, sikap, tindakan, perilaku dan langkah-langkah yang akan kita lakukan dalam kehidupan ini. Dan hal itu yang akan menjadi sebab atau menciptakan hasil yang akan diperoleh dalam kehidupan nantinya. |
|
Read more...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 Next > End >>
| | Results 1 - 9 of 27 |
|