|
Anak Belajar Dari Kehidupannya |
|
|
|
|
Written by Kahlil Gibran
|
|
Tuesday, 04 September 2007 |
|
Jika anak di besarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak di besarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak di besarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah. Jika anak di besarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri. Jika anak di besarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri. Jika anak di besarkan dengan iri hati, ia belajar rendah diri. Jika anak di besarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah. Jika anak di besarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak di besarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak di besarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak di besarkan dengan penerimaan, ia belajar mencinta. Jika anak di besarkan dengan dukungan, ia belajar menenangi diri. Jika anak di besarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan. Jika anak di besarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan. Jika anak di besarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan. Jika anak di besarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak di besarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. Jika anak di besarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran. |
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Friday, 20 October 2006 |
|
Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. |
|
Last Updated ( Friday, 03 November 2006 )
|
|
Read more...
|
|
|