|
Sang Lelaki Dan Sang Wanita |
|
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Wednesday, 04 July 2007 |
|
Dalam praktek kehidupan sehari-hari, laki-laki dan perempuan lantas memiliki ruang-ruang aktivitas sendiri-sendiri. Keduanya memiliki pasang surut dan dinamikanya sendiri-sendiri. Mayoritas laki-laki ingin tampil sebagai lelaki. Mereka ingin menguatkan fitrah lelakinya itu dengan berbagai atribut yang semakin menegaskan kelaki-lakiannya. Mulai dari pakaian, pekerjaan, rumah tangga, sampai berbagai aksesoris dalam kehidupannya. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Wednesday, 06 June 2007 |
|
Nak,... Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku. Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu. |
|
Read more...
|
|
|
Bola Ping Pong & Tahu Pong |
|
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Friday, 04 May 2007 |
|
Apa bedanya bola ping pong dan tahu pong ?. Tentu jawabnya tahu pong bisa dimakan, sedangkan menelan bola ping pong bisa bikin tersedak. Yang mau kita soroti adalah perbedaan ketika tahu pong dilempar ke lantai segera berubah menjadi tahu gejrot, hancur berantakan, sedangkan bola ping pong memantul kembali. Semakin kuat bola ping pong dilempar kelantai, semakin tinggi daya pantulan baliknya. |
|
Read more...
|
|
|
10 Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak |
|
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Friday, 04 May 2007 |
|
Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan ?. Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih "Harimau yang memakan anaknya sendiri", atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Friday, 04 May 2007 |
|
Dulu saya berpikir bahwa saya mempunyai sekurang-kurangnya 18 tahun untuk membagi hidup bersama dengan anak-anak kami. Sekarang baru saya menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya memiliki 12 tahun. Dua di antara tiga anak kami sudah menginjak remaja dan mulai menampakkan perilaku remaja, bukan kanak-kanak lagi. Mereka enggan diajak pergi bersama jika tidak ada teman sebaya dan di rumah telepon telah berubah menjadi alat komunikasi yang sangat vital bagi mereka (begitu vitalnya sehingga saya kesulitan memakainya). |
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 14 |